Potret 1990-an di Pasar Antik Jalan Surabaya

CategoriesWisata

Di tengah deru modernitas Jakarta, Pasar Antik Jalan Surabaya di Menteng masih berjuang bertahan. Kunjungan wisatawan yang dulu memadati kawasan kian menyusut, tergerus krisis dan perubahan zaman.

Aspirasionline.com – Stasiun Cikini terasa lengang pada Minggu siang, (19/10/2025). Peron yang biasanya sesak oleh lautan manusia, hari itu hanya dilalui segelintir orang yang hendak menghabiskan akhir pekan. Aku  melangkah keluar dengan langkah santai dan memutuskan berjalan menyusuri trotoar menuju kawasan Menteng dengan berbekal aplikasi penunjuk arah di ponsel.

Terik matahari dan udara panas khas Jakarta mengiringi langkahku. Sesekali, suara klakson kendaraan yang saling bersahutan menjadi musik latar yang tak terhindarkan. Sekitar lima belas menit kemudian, aku tiba di Jalan Surabaya, sebuah ruas jalan yang seperti berhenti di satu masa.

Pasar antik itu membentang di Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat. Baru beberapa langkah memasuki kawasan ini, suasana bising jalan raya perlahan tergantikan oleh keteduhan. Sepanjang kurang lebih setengah kilometer, deretan kios kayu berjajar rapi di bawah naungan pohon-pohon rindang yang memayungi jalan. 

Tak ada etalase kaca modern atau papan reklame mencolok, yang ada hanyalah lapak-lapak sederhana, tempat benda-benda lawas dipajang apa adanya, seolah ditata untuk bercerita kepada siapa saja yang lewat.

Melangkah di antara kios-kios ini membuatku serasa mundur ke era 1990-an. Porselen bermotif rumit, tumpukan koin lawas, kamera analog kini kembali tren, wayang kulit, hingga kompas kuningan dan teropong kapal tua tersusun rapi. Benda-benda itu bukan sekadar barang dagangan, melainkan saksi bisu masa ketika pasar ini berada di puncak kejayaannya. 

Pasar ini telah lama menjadi magnet bagi beragam pengunjung. Ada yang sekadar datang untuk berfoto demi konten media sosial, ada pula kolektor serius dari dalam dan luar negeri yang berburu harta karun. Meski kunjungan turis mancanegara tak lagi sepadat masa jayanya, kehadiran mereka masih sesekali tertangkap mata.

Salah satu pengunjung di sana adalah Adel, pengunjung asal Cengkareng yang aku temui sedang mengamati barang antik di salah satu kios. Ia mengaku baru pertama kali datang ke Pasar Antik Jalan Surabaya setelah melihat unggahan di media sosial Tiktok dan Facebook.

“Emang aku suka sama barang-barang antik. Jadinya mau coba-coba cari harga yang miring di sini,” ujar Adel saat diwawancarai ASPIRASI  pada Minggu, (19/10/2025).

Baginya, berburu barang antik secara langsung memberikan sensasi berbeda dibanding membeli via daring, meski ia mengakui harganya tak selalu murah.

Penjual dan Sisa Riuh Pasar Antik Jalan Surabaya

Pasar Antik tetap hidup hingga saat ini tentu bukan tanpa sebab. Di balik tumpukan barang antik itu, ada sosok-sosok seperti Herman, pedagang senior yang telah setia menjaga kiosnya sejak 1990. 

Pria asal Sumatera ini awalnya merantau ke Jakarta dan hanya ikut-ikutan teman yang sudah lebih dulu berdagang. Siapa sangka, “ikut-ikutan” itu berubah menjadi jalan hidup yang ia tekuni selama tiga puluh lima tahun.

Herman mengenang dengan jelas masa keemasan pasar ini di era 90-an. Matanya berbinar saat menceritakan bagaimana akhir pekan selalu menjadi hari yang sibuk.

 “Kalau zaman tahun itu, hari-hari libur ini ramai. Sabtu, Minggu, gitu,” tuturnya saat diwawancarai ASPIRASI pada Minggu, (19/10/2025). 

Sayangnya, roda nasib berputar. Suasana riuh itu kini terasa kontras dengan kondisi sekarang. Herman menyebut pasar kini lebih sepi. Titik baliknya bermula sejak krisis moneter 1998, yang kemudian diperparah oleh hantaman pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu.

Meski demikian, pengalaman puluhan tahun telah mengasah insting Herman. Ia paham betul membedakan mana barang yang sekadar tua dan mana yang bernilai tinggi. Menurutnya, barang langka seperti porselen kuno memiliki nilai jual yang jauh berbeda dengan barang produksi massal.

“Walaupun barangnya tua, kalau fungsinya cuma buat di dapur, tidak ada harganya. Tujuannya harus buat dipajang,” jelasnya.

Herman juga tak menutup-nutupi kenyataan bahwa tidak semua barang yang dijual merupakan antik asli. Beberapa patung yang terpajang, katanya, merupakan hasil produksi pengrajin dari Bali yang dibuat menyerupai barang lawas.

Bertahan di Arus Modernitas, Pasar Antik Menunggu Ramai Kembali

Di tengah menjamurnya marketplace dan toko daring, Herman memilih tetap konvensional. Dirinya enggan berjualan secara online karena takut akan risiko penipuan dan kerumitan transaksi. Baginya, interaksi tatap muka adalah kunci kepercayaan dalam bisnis barang antik.

Meski kondisi ekonomi tak semudah dulu dan pengunjung tak seramai masa lampau, Herman memilih bertahan. Di usianya saat ini, memulai pekerjaan baru dari nol terasa mustahil. Pasar Jalan Surabaya sudah menjadi rumah keduanya selama lebih dari separuh usia.

Ya, sekarang kita udah fokus di sini, ya sudah sini aja. Kalau misalnya saya dagang, misalnya dagang pakaian, itu kan harus ngulang lagi dari nol, belajar,” kata Herman.

Pasar Antik Jalan Surabaya kini bertahan di antara himpitan gedung bertingkat dan laju modernitas Jakarta, menjaga ingatan akan masa lalu. Ia hidup dari napas kesetiaan para pedagang lama seperti Herman, dan rasa penasaran generasi muda seperti Adel yang datang silih berganti.

Bagi Herman yang sudah lama berjualan disana, mimpinya jauh lebih sederhana. Dirinya tak muluk-muluk meminta pasar dipercantik atau diubah menjadi modern. Ia hanya berharap satu hal, agar pasar ini bisa kembali ke masa jayanya.

“Harapannya palingan bisa ramai lagi deh seperti dulu,” pungkas Herman menutup pembicaraan, sembari kembali mengelap debu dari patung-patung yang setia menemaninya menunggu pembeli.

 

Gambar: ASPIRASI

Reporter: Rasyid Hilmy | Editor: Hanifah Nabilah

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *