Melihat Gangguan Mental Remaja melalui Film Dear Evan Hansen

CategoriesResensi

Judul: Dear Evan Hansen (2021)

Sutradara: Stephen Chbosky

Diadaptasi dari: Musikal Dear Evan Hansen

Durasi: 2 jam 17 menit

Genre: Musikal/Drama

Dibalut format musikal yang menyentuh, Film Dear Evan Hansen mengangkat perjalanan para remaja dengan kecemasan sosial yang terjebak dalam kebohongan yang terus membesar dan menyoroti pentingnya dukungan emosional bagi remaja. 

Aspirasionline.com — Dear Evan Hansen, film adaptasi dari musikal Broadway pemenang Tony Award untuk Best Musical (2017) dan Grammy Award untuk Best Musical Theater Album (2018) merupakan film yang memboyong bahasan seputar kesehatan mental khususnya pada kalangan remaja. 

Film musikal ini berfokus pada Evan Hansen, seorang siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang hidup dengan gangguan kecemasan sosial dan depresi. Dirinya kerap merasa tidak terlihat, canggung dalam interaksi sosial, dan mengalami kesulitan mengekspresikan perasaan, bahkan kepada ibunya sendiri.

Lagu pembuka, Waving Through a Window,” menjadi representasi kuat dari kondisi tersebut menyiratkan bahwa Evan hadir secara fisik, tapi terisolasi secara emosional.

Cerita diawali dengan Evan yang mencetak surat untuk dirinya sendiri dan dicuri oleh Connor Murphy, siswa bermasalah di sekolahnya. Tak lama, Connor mengakhiri hidupnya. Ditemukan bersama tubuh Connor, surat Evan yang Connor curi menyebabkan keluarga Connor yakin bahwa Evan adalah sahabat rahasia Connor

Namun, Evan tidak mampu membantah sebab gangguan kecemasan yang dimilikinya. Alih-alih mengungkap kebenaran, Evan justru merangkai kebohongan tentang “persahabatan” fiktifnya dengan Connor. 

Kontroversi kebohongan yang awalnya dirangkai oleh Evan dalam upaya memenuhi ekspektasi dari keluarga Connor perlahan berubah menjadi kedekatan antara Evan dengan keluarga Connor. Perasaan Evan justru diungkapkan di akhir melalui lagu “Words Fail.” 

“And sometimes, you see everything you wish you had.”

“…. And you want to believe it’s true. So you make it true.”

Meski berhasil “menyelamatkan” orang lain, perbuatan itu justru menguburnya lebih dalam dalam kebohongan yang ia ciptakan sendiri, kebohongan yang akan merugikan orang yang ia sayang dan dirinya sendiri. 

Pentingnya Dukungan bagi Kesehatan Mental Remaja

Dilansir dari artikel World Health Organization (WHO) yang dirilis pada Oktober 2024. Secara global, satu dari tujuh remaja berusia 10-19 tahun mengalami gangguan mental.  

Evan Hansen, sebagai tokoh sentral, digambarkan sebagai remaja yang bergulat dengan gangguan kecemasan dan menjelma menjadi potret keterasingan generasi muda—mereka yang merasa tak terlihat di tengah tekanan sosial dan ekspektasi masyarakat. 

Sementara itu, Connor Murphy merepresentasikan sosok remaja yang kerap dilabeli bermasalah, padahal krisis yang dialaminya berakar pada kesepian mendalam serta ketidakmampuan menyalurkan dan mengungkapkan emosinya.

Meski terletak pada keluarga yang mencoba yang terbaik untuk mereka, film ini menunjukkan bahwa ketidakhadiran emosional pada keluarga memainkan besar sebagai faktor yang memperburuk kondisi mental remaja. 

Pada kasus Heidi Hansen, sebagai Ibu Tunggal, dirinya terkendala dalam meluangkan waktu untuk Evan ditengah kesibukan kerjanya. Hal tersebut mengakibatkan Evan pun tumbuh dengan rasa kesepian yang mendalam hingga mendorongnya menciptakan kebohongan tentang Connor untuk mendapat penerimaan dari masyarakat.

Di sisi lain, Cynthia dan Larry Murphy juga cermin kegagalan dalam memahami Connor. Setelah mencoba berbagai cara memperbaikinya, mereka kini terobsesi mencitrakan Connor sebagai “anak baik” usai kepergiannya, bahkan melibatkan Evan demi mewujudkan citra tersebut.

Dalam konteks tersebut, Dear Evan Hansen menegaskan bahwa krisis kesehatan mental remaja tidak pernah berdiri sendiri. Keadaan itu lahir dari irisan antara relasi keluarga yang timpang, kegagalan komunikasi emosional, serta kebutuhan remaja akan pengakuan dan rasa dimiliki yang tidak terpenuhi dengan baik. 

Pesan tersebut menekankan bahwa remaja perlu memiliki keberanian untuk terbuka mengungkapkan beban perasaan, berani mencari pertolongan profesional, dan mau menerima bantuan yang ditawarkan oleh orang terdekat untuk lebih terbuka akan kondisi mental mereka. 

Hal ini dikarenakan setiap individu, termasuk remaja pun berhak merasakan kelegaan dengan membagi kesulitannya dengan orang lain yang dapat dipercaya dan menerima bantuan sebagai bagian dari proses penyembuhan, menuju kondisi mental yang lebih stabil. 

 

Foto: sashaymagazine.com

Reporter: Putri Calista Mg. | Editor: Zahra Awaliany Safitri 

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *