Hening dirampas bising,
suara-suara rakyat di depan istanaku.
Padahal aku sedang menyeruput segelas kopi Hambalang,
sejenak sebelum aku terlelap diranjang besarku.
Saat mimpi mulai memasuki lelap
tampaklah ketakutan terbesarku selama ini.
Manusia berpakaian serba hitam dan payung hitam berharap
sembari membawa bidang bertuliskan, “Kami tersiksa, tolong dengarkan kami.”
Isi perutku bergejolak.
Organ dalamku diselimuti rasa jijik.
Aku lepaskan keluar, memuntahkan semuanya.
Tak sudi sedikitpun rasa peduli ini terpelihara.
Apakah binatang-binatang itu pikir aku akan acuh?
Sekencang apapun mereka menggonggong,
tidak akan menembus gendang telingaku
yang tertutup dengan seribu penghalang.
Bagaimana bisa makhluk najis seperti mereka meminta empati?
Berhentilah mengemis belas kasih.
Empati itu telah pergi.
Mustahil aku memberi iba kepada mereka yang tak berarti.
Mereka masih di tempat.
Belum juga hilang dari penglihatan.
Masih berdiri tegap hari demi hari,
berharap aku memberikan empati.
Sebab aku adalah manusia ternama
dengan melontarkan kata yang luput dari cela.
Seharusnya diriku disembah,
dibuatkan patung sebesar-besarnya.
Aku terbangun dengan tubuh bermandikan peluh.
Dibangunkan ajudanku untuk bersiap menuju acara mencari muka.
Mimpi buruk itu tak kian menjauh.
Namun aku tetap tidak peduli.
Ilustrasi: Fardo Aimar, Mg
Penulis: Fardo Aimar, Mg | Editor: Najmi Fathya
