Hustle Culture : Budaya Kerja Yang Berlebihan

Forum Akademika

Hustle Culture merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang bekerja terlalu keras. Perlu adanya pemahaman mengenai esensi dari budaya ini apabila diterapkan secara berlebihan.

Aspirasionline.com — Kerja keras merupakan suatu hal yang erat kaitannya dengan bagaimana seseorang mampu memberikan kinerja yang maksimal. Terlepas dari hal tersebut, kerja keras pun didukung oleh motivasi berupa keinginan dalam mencapai tujuan tertentu.

Ketika motivasi tersebut berubah menjadi semacam esensi yang kuat untuk segera terpenuhi, maka seseorang pun mulai menerapkan Hustle Culture, sebagai budaya kerja keras yang berlebihan dan dilakukan secara terus menerus. Namun, di luar itu semua, kebanyakan orang tidak memahami betul mengenai bagaimana seharusnya budaya tersebut dijalankan serta dampak apa yang dapat dihasilkan dari penerapannya.

Efnie Indrianie, selaku Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga yang berasal dari Universitas Kristen Maranatha, turut memberikan pandangannya mengenai Hustle Culture. Beliau pun menjelaskan, mengenai perspektif dari Hustle Culture yang memiliki dua sisi berbeda.

Menurut perempuan itu, Hustle Culture dapat dilihat dari perspektif pertama, yakni mengenai budaya kerja keras yang luar biasa. Lalu, mendorong seseorang untuk menjadi lebih produktif dalam meraih keinginan mereka. Sementara perspektif lain mengkaji Hustle Culture sebagai budaya yang berpengaruh pada kesehatan fisik maupun psikis.

“Melihat keduanya, dapat disimpulkan bahwa Hustle Culture harus diterapkan secukupnya saja,” ujar Efnie kepada ASPIRASI pada Rabu (01/06).

Efnie pun menjelaskan kembali bahwa Hustle Culture semakin marak terjadi, terlebih di masa pandemi. Apalagi dalam era digital saat ini, seseorang dapat bekerja tanpa ada batas ruang dan waktu. “Makanya Hustle Culture itu mudah terinternalisasi,” lanjut Efnie.

Beliau pun juga mengutarakan pendapatnya mengenai Hustle Culture yang kebanyakan melanda generasi muda. Hal ini dikarenakan kemampuan generasi muda dalam menyerap dan mengeksplor sesuatu, melalui proses pembelajaran terhadap generasi sebelumnya.

Dalam hal ini, terjadi semacam Socialization, dimana adanya pembagian value yang dimiliki oleh Hustle Culture. Sehingga hal itu menjadi inspirasi dan mendorong generasi muda untuk turut serta menerapkan budaya tersebut dalam kehidupan mereka.

Esensi Dan Dampak Dari Hustle Culture

Berbicara perihal timbulnya perbedaan pendapat dalam lingkungan masyarakat perihal Hustle Culture, Efnie menyatakan bahwa ia dapat memahami hal tersebut. Seseorang cenderung melakukan Hustle Culture demi meraih keinginan mereka. Namun, disisi lain, Hustle Culture sering dikaitkan sebagai budaya yang berdampak negatif pada kesehatan, baik secara fisik maupun psikis.

“Secara fisik, ketika seseorang bekerja keras tanpa kenal waktu, yang menyebabkan imunitas dan kesehatan mereka menurun. Sementara itu, secara psikis, bekerja secara terus menerus menyebabkan mental seseorang sampai pada fase exhausted dan mampu memicu gangguan mental pula,” jelasnya.

Di sisi lain, Efnie pun membicarakan pula soal keterkaitan Hustle Culture dengan beban Toxic Productivity. Beliau menyatakan bahwa kerja keras dapat menjadi suatu hal yang toxic apabila tidak diikuti dengan kerja cerdas, dimana seseorang perlu memahami strategi, kesehatan, dan langkah kerja yang ia lakukan demi menghasilkan kinerja yang efektif.

Efnie juga menekankan, bahwa Hustle Culture berhubungan dengan beban kerja. Dimana seseorang mampu untuk bekerja keras dalam mengelola pekerjaannya, sekalipun setiap perusahaan memiliki budaya kerjanya sendiri.

Untuk menangani penerapan Hustle Culture itu sendiri, Efnie mengungkapkan cara yang tepat, yakni dengan menanamkan value yang sesuai dengan diri kita. Melalui hal tersebut, ia berharap penerapan Hustle Culture kedepannya dapat menjadi suatu esensi yang dipahami dengan baik oleh semua orang.

“Dimana kita membentuk mindset dan impian masa depan kita terlebih dahulu, serta berhati-hati dalam membuat impian. Karena tidak dipungkiri pula ketika kita mampu membuat impian setinggi-tingginya, dimana hal ini jugalah yang memengaruhi penerapan dari Hustle Culture itu,” tutupnya.

Ilustrasi : Nathasya Irish Rachelninta.

Reporter : Nathasya Irish Rachelninta. | Editor : Azzahra Dhea.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *