Mengangkat Pesan Moral Nusantara melalui Seni Teater Maling Malang

CategoriesNasional

Pertunjukan Kampung Nusantara: Maling Malang, mengangkat dinamika peristiwa yang ada di nusantara. Meski tak luput dari tantangan karena menggabungkan para pemain anak anak dan juga remaja, pertunjukan ini tetap berhasil memukau para penonton. 

Aspirasionline.com – Teater Anak Nusantara (TERAS) baru saja menghidupkan panggung dengan  pertunjukan Kampung Nusantara, sebuah lakon bertajuk Maling Malang. Selama dua hari, pada 3 dan 4 Mei 2025, pertunjukan digelar mengalir dalam empat sesi pementasan di gedung Kesenian Miss Tjitjih, Kemayoran, Jakarta Pusat. 

Sang sutradara, yakni Indra Wahyudi yang akrab disapa Onga, mengungkapkan kepada ASPIRASI bahwa Kampung Nusantara merupakan gambaran dari kehidupan sehari-hari di Indonesia.

“Sebenarnya Kampung Nusantara tuh kehidupan sehari-hari, jadi apa yang ada di nusantara ini, di Indonesia ini, kita kerucutkan menjadi Kampung Nusantara. Jadi (lakon ini) versi kecilnya,” ungkap Indra kepada ASPIRASI pada Minggu, (4/5). 

Berdasarkan pantauan ASPIRASI, pertunjukan ini disambut antusias oleh para penikmat teater dari segala usia. Mereka larut dalam alur cerita yang disajikan, seolah-olah menjadi bagian dari kisah yang dipentaskan. 

Sebagaimana yang dituturkan oleh Akma Abrisam, salah satu penonton yang hadir karena memang memiliki minat menonton teater sekaligus memberikan dukungan untuk temannya yang tampil. 

“Karena saya juga bergabung di ekskul (ekstrakurikuler) sekolah saya, teater. Jadi, saya lumayan cukup minat untuk nonton teater. Terlebih lagi teman saya juga ada yang tampil jadi saya ingin memberikan support (dukungan),” tutur Akma kepada ASPIRASI pada Minggu, (4/5).

Pesan Tersirat dalam cerita Kampung Nusantara: Maling Malang 

Di setiap cerita yang dibawakan pada pertunjukan, terselip pesan-pesan yang bukan sekadar hiburan semata. Para penonton yang hadir, tidak hanya menikmati akting para pemain, tetapi juga dibawa untuk melihat makna yang tersembunyi di balik lakon. 

Indra mengungkapkan bahwa Maling Malang menyisipkan pesan tentang pentingnya kepedulian kepada hal-hal yang dekat dengan hidup dan lingkungan kita sebagai prioritas.

Melalui karakter Baba Amsyong yang memiliki kekayaan namun enggan berbagi, Indra mengaku bahwa karakter tersebut membawa pesan moral untuk meninggalkan sifat pelit. Ia juga menekankan pentingnya nilai kerukunan antarwarga.

“Pesannya, kadang tuh di lingkungan kita ada yang enggak kita perhatiin, atau malah perhatiinnya yang jauh. Terus juga ada peran Baba Amsyong yang pelit, itu juga pesan moral kalo jadi orang jangan pelit-pelit, perhatikan orang-orang sekitar kita juga,” ungkap Indra.

Dilansir dari akun Instagram @teateranaknusantara, pertunjukan Maling Malang menyimpan kisah getir tentang bagaimana Asep, Tigor, Bintang, dan Bulan yang terpaksa mencuri di rumah Baba Amsyong demi menyambung hidup.

Namun, niat baik tak selalu bisa menutupi cara yang keliru. Pertunjukan ini menegaskan bahwa tindakan yang salah tetap akan membawa akibat.

Dibungkus dalam balutan genre yang beragam, mulai dari komedi, drama, hingga horor, pertunjukan ini berhasil menghipnotis penonton untuk larut dalam kisah yang tersaji di atas panggung. 

“Kalau saya pribadi, lebih sedihnya tuh ke tutup senangnya sih. Soalnya banyak adegan yang menurut saya lucu aja. Jadi, untuk bagian sedihnya tuh ke tutup rasa senang dan bahagianya,” pungkas Akma.

Menariknya, hal berbeda disampaikan oleh Anindita Putri, salah satu penonton yang juga hadir menyaksikan pertunjukan. Baginya, adegan paling berkesan justru muncul saat suasana horor mulai terasa. 

“Kalau aku juga ada satu lagi yang berkesan pas bagian setan muncul dari belakang, itu lumayan ngagetin sih,” ujar Anindita kepada ASPIRASI pada Minggu, (4/5). 

Riak Tantangan yang Mewarnai Proses Pertunjukan

Bagi Indra, pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, melainkan jembatan untuk menghapus stigma. Ia ingin seni teater tak lagi dipandang sebelah mata, melainkan menjadi ruang baru bagi anak anak untuk belajar dan bersosialisasi.

“Teater tuh dianggapnya nyeleneh, pakaiannya tidak sopan, bahasanya semrawut, urakan dan lain-lain, tapi kita pengen kasih tahu bahwa di teater tuh anak-anak banyak belajar. Disiplinnya ada, aktingnya ada, jadi macam-macam. Banyak yang mereka dapat bukan cuman akting karena di luar itu mereka bisa bersosialisasi,” ujar Indra.

Namun, menapaki visi tersebut tentu bukan perkara mudah. Di balik gemerlap panggung, muncul tantangan tersendiri baik bagi para pemain maupun kru di balik layar. 

Saat diwawancarai ASPIRASI, Janes Robin Pasaribu, salah satu pemeran karakter maling yang yakni Asep, mengungkapkan bahwa ini adalah pengalaman pertamanya bermain teater, dan ia harus mengalami berbagai tantangan salah satunya berlatih bahasa Sunda. 

“(karakter) Asep ini kan pakai bahasa Sunda ya ngomongnya, dan aku tuh emang bukan orang Sunda asli,” jelas Janes kepada reporter ASPIRASI pada Minggu (4/5).

Tak hanya soal bahasa, Janes juga harus mendalami karakter Asep yang digambarkan lesu dan melas. Ia berlatih mimik wajah, artikulasi, dan vokalnya agar dapat menjangkau hati penonton hingga ke deretan paling belakang. 

Tantangan juga menerpa para pemain cilik, salah satunya Rayqal yang memerankan bocah kampung. Dirinya mengaku cukup kesulitan menghafal naskah, terlebih karena rasa takut lupa saat tampil.

“Susahnya ada, soalnya takut enggak hafal script-nya,” ucap Rayqal kepada ASPIRASI pada Minggu, (4/5).

Senada dengan Rayqal, pemeran anak kecil lainnya yakni Gavin, mengandalkan hafalan sebagai senjata utama agar tak mengulang kesalahan di atas panggung. 

“Di hafal-hafal aja naskahnya, supaya nanti pas pertunjukan enggak salah, kan saya pernah latihan tiba-tiba saya salah, jadi dihafalin,” tutur Gavin saat ditemui ASPIRASI pada Minggu, (4/5). 

Kehadiran para pemain cilik yang ikut dalam pertunjukan seni teater ini pun menjadi tantangan bagi Indra. Namun, Indra mengatakan tantangan membimbing anak-anak ini menjadi sebuah keseruan bagi indra dan tim untuk mengakomodir semangat mereka.

“Sebenarnya bukan kendala sih, keseruan kita aja, karena mereka kan juga (punya) imajinasinya sendiri, punya kreativitas sendiri, punya semangatnya sendiri. Kadang kitanya udah capek merekanya masih on-fire (semangat),” jelas Indra.

Dari tantangan yang tak henti menyapa, para pemain akhirnya berhasil menaklukan panggung dan memikat hati penonton.  Para pemain berhasil menjelma menjadi jiwa-jiwa panggung yang menghidupkan cerita. Hal ini diungkapkan oleh Naura Maritza, salah satu penonton yang hadir. 

“Pemeran-pemerannya semua tuh menghayati banget. Jadi, mereka kayak enggak lagi akting, pokoknya kayak benar-benar natural, hebat banget keren banget semuanya,” tutup Naura. 

 

Foto : Dokumentasi TERAS

Reporter : Agung, Mg. | Editor : Tia Nur

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *