Adu Janji antar Paslon dalam Debat Pemira BEM-U

Adu Janji antar Paslon dalam Debat Pemira BEM-U

Ragam pembahasan pada debat terbuka pasangan calon (paslon) ketua dan wakil ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) mulai dari penyampain visi dan misi, tanya jawab panelis, tanya jawab antar paslon, hingga tanya jawab audiens.

Aspirasionline.com — Jumat (22/11) telah berlangsung debat paslon ketua dan wakil ketua BEM Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) yang diselenggarakan di Auditorium Muhammad Husni Thamrin lantai 4 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Pemilihan Raya (pemira) tahun ini diwarnai dengan adanya dua paslon. Paslon nomor urut pertama yaitu Adyanta Tasima Ginting dari Fakutas Hukum (FH) 2017 dan wakilnya Rafly Arief Lazuardi dari FEB 2017. Sementara paslon nomor urut dua yaitu Robi Warihon Pasaribu dari (FH) 2017 dan wakilnya Danang Wiryawan Nugroho dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) 2017.

Paslon nomor satu menyebutkan memiliki lima poin visi yang akan mereka bawa untuk satu tahun kedepan jika terpilih sebagai ketua dan wakil ketua BEM UPNVJ.

“Jadi poin dari visi saya ini ada lima, yaitu kekeluargaan, integritas, aktif, kreatif, serta sinergis,” ujar Adyanta.

Sementara paslon nomor urut dua, Robi dan Danang, menyebutkan dalam visinya bahwa mereka akan menjalin komunikasi yang efektif dan efisien antara BEM dengan rektorat, organisasi mahasiswa, dan mahasiswa UPNVJ. Selain itu, mereka juga berjanji akan mewadahi aspirasi mahasiswa dengan transparansi dan integritas yang tinggi.

“Kami akan memfasilitasi mahasiswa UPNVJ dalam mengembangkan minat dan bakat di bidang akademik maupun non akademik demi terwujudnya lingkungan civitas akademika UPNVJ yang berdaya saing tinggi,” ucap Robi.

Dalam sesi tanya jawab panelis, dibahas mengenai diskon Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa akhir. Adyanta dari paslon nomor satu mengklaim jika pihaknya dipercaya untuk memegang setir badan eksekutif itu maka akan ada keberhasilan diskon UKT sampai 50 persen untuk mahasiswa akhir.

Adyanta mengambil contoh dari berhasilnya penurunan UKT hingga 50 persen untuk mahasiswa tingkat akhir yang terjadi di UPN “Veteran” Jawa Timur. Dengan itu mereka yakin ketika menjabat nantinya akan mampu melakukan hal yang sama.

“Untuk masalah penurunan UKT di periode kami, kami rasa bisa tercapai karena memang sudah cukup umurnya dengan pertimbangan rektorat pada tahun sebelumnya,” ucap Adyanta.

Rafly juga menambahkan bahwa ia memiliki data tentang jumlah urgensi mahasiswa yang membutuhkan diskon UKT. Menurutnya, data tersebut akan menimbulkan kajian yang nantinya akan muncul kesepakatan antara BEM dengan rektorat melalui birokrasi yang ada.

Di lain sisi, Robi dari paslon nomor urut dua menjelaskan pihaknya akan membantu realisasi diskon UKT untuk para mahasiswa tingkat akhir yang hanya terbebani dengan skripsi.

“Kalau memang dia hanya terbebani oleh skripsi di semester akhir (sama sekali tak ada kelas perkuliahan, red.) itu akan kita bantu dan akan kita perjuangkan karena ini sudah menjadi permasalahan bersama,” kata Robi.

Persoalan lain yang dibahas yaitu mengenai lahan parkir di UPNVJ. Rafly mengatakan bahwa memiliki data yang sudah ia kaji bersamaan dengan timnya. Menurut penelitian yang dilakukannya, ada hari dan jam tertentu dimana parkiran memadai dan penuh.

“Data yang sudah kami pegang, kami akan melakukan advokasi ketika urgensi lahan parkir sudah masuk ke ranah yang perlu diperjuangkan. Karena untuk dihari tertentu urgensi parkir ini masih memenuhi kapasitas parkir di UPNVJ ini,” ujar Rafly.

Robi mengaku mendapatkan informasi bahwa lahan di belakang Fakultas Ilmu Komputer (FIK) sudah dibeli oleh pihak rektorat. Untuk kedepannya jika terpilih ia akan mengoptimalkan lahan itu agar dapat dijadikan lahan parkir dengan beraudiensi dengan pihak rektorat.

“Saya tidak tahu kapan akan ditindaklanjuti, cuman itu sudah dibeli. Itu nanti yang jadi pekerjaan rumah kita bersama mungkin, gimana cara kita pengoptimalan lahan parkirnya,” kata Robi.

Pertanyaan selanjutnya yang dilayangkan kepada kedua paslon BEM yaitu mengenai tranparansi anggaran yang ada di UPNVJ. Jawaban dari paslon nomor urut satu dan dua tak jauh beda, yaitu dengan beraudiensi dengan pihak organisasi mahasiswa (ormawa) dan pihak rektorat.

“Akan ada kajian dan pembahasan bersama dengan semua ormawa dan himpunan fakultas yang ada mengenai peraturan undang-undang dalam menyebutkan anggaran,” jawab Rafly.

Sikap Paslon Terhadap Organisasi Eksternal Hingga Komersialisasi Pendidikan

Ketika ditanya mengenai organisasi eksternal yang mulai masuk ke dalam kampus, kedua paslon sepakat bahwa organisasi ekstrernal merupakan bentuk kegiatan politik sehingga tak ada hak bagi mereka untuk membatasi kegiatan politik seseorang.

“Jadi sebagai calon ketua BEM tidak ada hak untuk membatasi orang dalam kegiatan berpolitiknya, itu bebas saja siapa saja boleh bermain politik,” ucap Adyanta dari paslon nomor satu. Namun di sisi lain Adyanta menganggap kondisi UPNVJ sendiri masih beresiko atas bergabungnya organisasi ekternal ke dalam kampus.

Sementara itu, Robi dari paslon nomor dua menambahkan bahwa yang menjadi permasalahan adalah ketika organisasi ekstra meminta legalitas di dalam kampus. “Walaupun memang untuk masalah legalitas organisasi ekstra di dalam kampus itu tidak ada,” ujar Robi.

Pembahasan berlanjut pada wujud konkret kedua paslon dalam mengatasi komersialisasi pendidikan. Mengenai ini, Adyanta mengatakan adanya mekanisme yang harus dilalui untuk tercapainya suatu advokasi salah satunya dengan membangun kepercayaan terhadap pihak rektorat. Ia juga sesumbar akan melakukan aksi terhadap rektorat jika memang itu diperlukan dalam menanggapi masalah terkait dengan kesejahteraan mahasiswa.

“Kalau hanya mengandalkan BEM untuk turun aksi agak gimana gitu, kalau cuma 10 sampai 100 yang turun tidak ada power-nya,” ucap Adyanta.

Sedangkan paslon nomor dua mengatakan langkah konkret mereka yaitu dengan membawa masalah seperti Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) ke Forum Aspirasi Mahasiswa (FAM). Robi dan Danang mengklaim bahwa audiensi adalah wujud konkret dalam mengatasi masalah komersialisasi pendidikan.

“Poin utamanya hasil diskusi akan diangkat ke rektorat bersama-sama dan meminta hasil tertulis dan tenggat waktu bagi rektorat untuk menyelesaikan masalah ini,” ucap Robi, calon ketua BEM dari nomor urut dua itu.

Suasana Pelaksanaan Debat

Dari pantauan ASPIRASI ketika pelaksanaan debat calon ketua dan wakil ketua BEM UPNVJ masih banyak bangku kosong yang mewarnai tempat pelaksanaan debat. Sebagian besar bangku yang terisi hanya diisi oleh masing-masing tim sukses dua paslon.

Beragam pendapat muncul setelah jalannya debat terbuka calon ketua dan wakil ketua BEM UPNVJ. Salah satunya Rafif Akram, mahasiswa FISIP 2017. Rafif memandang waktu antara pelaksanaa fit and proper test dengan pelaksanaan debat terlalu singkat. Selain itu ia juga mempermasalahkan terkait dengan penunjukan sesi tanya jawab dengan sistem ‘siapa cepat’.

“Pemilihan audiens pada saat sesi tanya jawab yang agak aneh, dengan cara siapa yang lebih cepat angkat tangan merupakan cara yang tidak efektif,” ujar Rafif.

Pendapat lain datang dari Defita, mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) 2017 yang beranggapan bahwa acara yang diselenggarakan berjalan secara khidmat, tidak ada tindakan yang mengganggu suasana dan membuat acara menjadi kondusif.

“Visi misi yang dibawakan dari kedua paslon sangat baik dan meyakinkan. Saya berharap bahwa siapa pun yang maju menjadi ketua dan wakil ketua BEM dapat memajukan BEM UPNVJ,” ujarnya kepada ASPIRASI.

Reporter: Hibban Mg. dan Tamara Mg. |Editor: Faisal Reza.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *