Pengenalan Kehidupan Kampus Masuk Barak

Pengenalan Kehidupan Kampus Masuk Barak

Lokasi pelaksanaan PKKMB 2019 tak dilaksanakan di area kampus hijau, melainkan di Bumi Marinir Cilandak. Pun pelaksanaannya tak hanya dilakukan oleh panitia PKKMB, marinir pun ikut turun tangan.

Matahari belum sempat memancarkan sinarnya, namun jalanan sekitar Bumi Marinir Cilandak sudah ramai. Para mahasiswa baru tumpah ruah memenuhi jalan. Lantas membuat lalu lintas terhambat tak terelakan lagi.

Dengan semangat membuncah mereka memasuki Bumi Marinir Cilandak. Lengkap dengan topi dan jaket alamater yang melekat ditubuhnya, mereka siap untuk mengikuti kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) UPN “Veteran” Jakarta (UPNVJ) 2019.

Pelaksanaan PKKMB tahun ini mengalami perbedaan besar dengan tahun sebelumnya. Jika biasanya PKKMB dilakukan di lingkungan kampus, kini lokasinya bertolak ke gedung Balai Prajurit (Bapra) Cilandak.

Rektor UPNVJ Erna Hernawati menjelaskan hal ini dikarenakan kampus tak mampu lagi menampung sebanyak 3.200 orang untuk pelaksanaan PKKMB. Jumlah ini meningkat dari tahun lalu yang hanya sebanyak 2.855 orang. “Kita tidak punya lahan yang cukup. Jadi untuk tahun ini pelaksanaan PKKMB dilaksanakan di Bapra dengan bantuan marinir,” tutur Erna kepada ASPIRASI, Senin, (12/8).

Sejak pukul setengah enam pagi, mahasiswa baru sudah memadati gedung Bapra. Begitu mahasiswa baru masuk ke halaman parkir gedung Bapra, panitia PKKMB langsung mengarahkan mereka ke barisan sesuai kelompok yang telah ditentukan. Mereka dibagi menjadi 32 kelompok dengan 91 orang disetiap kelompoknya dan dimentori oleh satu orang panitia PKKMB.

Sekitar pukul enam pagi, peserta PKKMB mulai diarahkan menuju lapangan untuk melaksanakan Pelatihan Baris Berbaris (PBB). Dari halaman gedung Bapra, mereka dibariskan dan diperintahkan berlari ke lapangan upacara yang jaraknya sekitar 100 meter.

Pelaksanaan upacara dan PBB dilakukan dengan bantuan marinir serta Resimen Mahasiswa (Menwa).
Kegiatan PBB sendiri pertama kali dilakukan saat ini. Sebelumnya ketika pelaksanan PKKMB masih di lingkungan Kampus UPNVJ, PBB tidak pernah hadir.

Ketua Pelaksana PBB Syamsudin mengungkapkan PBB penting diterapkan saat PKKMB karena mencakup kepribadian dan kedisiplinan seseorang. Pria yang berseragam loreng pada pagi itu pun mengatakan bahwa PBB penting untuk diketahui oleh mahasiswa baru. Sebab, PBB merupakan Peraturan Militer Dasar (Permildas) untuk mahasiswa baru sebagai calon pemimpin di masa depan.

“Jika dia melakukan PBB dengan baik maka dia pasti dapat melakukan segala sesuatu dengan baik, disiplin, dan tepat waktu,” tandas Syamsudin.

Pelaksanaan upacara di lapangan pagi itu tidak berjalan lancar. Ada 250 mahasiswa baru yang tak kuat mengikitu kegiatan upacara. Lantas, mereka diistirahatkan di posko yang ada di belakang barisan upacara. Bahkan ada pula mahasiswa yang pingsan di tengah kegiatan upacara dan terpaksa dipapah menuju ambulans milik pihak kampus.

Di bagian belakang kampus sudah disediakan lima ambulans dari pihak kampus dan marinir, serta enam posko kesehatan yang digunakan untuk mengakomodasi mahasiswa baru yang sakit.

Korps Bantuan Kesehatan Avicenna dari Fakultas Kedokteran (FK) serta Korps Suka Relawan (KSR) bekerja sama dengan menurunkan personil sebanyak 15 orang tujuh orang dari KSR dan delapan orang lainnya dari Avicenna. Mereka ini yang nantinya selama kegiatan PKKMB akan berfungsi sebagai tim medis.

Meskipun begitu jumlah tenaga medis yang ada masih belum sebanding dengan jumlah mahasiswa baru yang ada. Salah satu anggota tim medis Zalya, mengungkapkan bahwa tim medis yang ada sempat kewalahan untuk mengatasi mahasiswa baru.

Awalnya hanya satu-dua orang saja yang sakit tapi lama-lama semakin banyak hingga kami kewalahan,” ucap Zalya kepada ASPIRASI ketika mendapati ratusan peserta PKKMB butuh penanganan fisik lebih.

Andrea Gladys, mentor dari kelompok sepuluh, mengatakan bahwa sebagian besar mahasiswa baru kelompoknya mengalami pusing dan mual. Hal ini terjadi lantaran para mahasiswa baru banyak yang mengikuti upacara dengan kondisi perut yang kosong. “Pada pusing sama mual karena belum sarapan,” ungkap Gladys kepada ASPIRASI pada, (12/8).

Selama kegiatan di lapangan berlangsung, banyak peserta PKKMB berlarian karena datang terlambat. Mahasiswa yang terlambat itu kemudian mengikuti upacara di luar barisan yang sudah ada.

Dalam barisan tersebut mereka melaksanakan upacara bersama dengan mahasiswa yang kedapatan tak mematuhi aturan. Mulai dari rambut gondrong hingga tak beratribut lengkap. Terhitung sebanyak 51 peserta PKKMB yang ada dibarisan khusus itu.

Selepas PBB dan upacara, peserta PKKMB diarahkan kembali menuju gedung Bapra oleh panitia dan marinir. Nada perintah tak henti keluar dari mulut marinir bagaikan orkestra, saling saut menyaut, mulai dari perintah berlari hingga meluruskan barisan.

Peserta anggota kelompok 1 s.d. 19 dan kelompok 32 masuk ke dalam gedung, sedangkan kelompok 20 s.d. 31 ditempatkan di tenda luar gedung. Di tenda itu tersedia layar plasma besar. Dari layar itulah mereka dapat menyaksikan jalannya kegiatan PKKMB yang disiarkan dari dalam gedung Bapra.

Pada PKKMB kali ini para mahasiswa baru disediakan dispenser disisi kiri dan kanan ruangan materi. Hal ini berbeda dengan PKKMB tahun sebelumnya karena biasanya panitia menyediakan air mineral kemasan plastik.

Kali ini, pihak panitia hanya mewajibkan peserta membawa botol minum agar bisa mengisi ulang air minum dengan yang telah disediakan. Di tenda luar gedung, tempat pengisian air berjumlah sembilan buah. Sedangkan, di dalam gedung lebih dari delapan dispenser yang tersebar baik di tribun maupun di pelataran gedung.

Bela Negara Menurut Menteri Pertahanan

Selepas istirahat, peserta PKKMB diminta berdiri untuk menyambut kehadiran Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu. Menhan hadir untuk menyampaikan materi mengenai bela negara kepada mahasiswa baru.

Diawal materinya ia menyampaikan mahasiswa haruslah memiliki kemampuan teknologi, integritas, dan berkepribadian Pancasilais. Ryamizard menegaskan bahwa Indonesia dengan ideologi Pancasilanya beserta sistem demokrasi yang dianutnya sudah final, tak bisa diganggu gugat, dan tak bisa ditawar.

Menurutnya pancasila sebagai alat pemersatu bangsa. Maka dari itu, ia berpesan kepada peserta PKKMB agar terus menjaga persatuan. “Kalian semua harus tahu Pancasila itu alat pemersatu bangsa. Jika tidak bersatu, maka negara akan hancur,” ujar Ryamizard di podium.

Menhan juga berpesan kepada peserta PKKMB supaya mereka tidak memiliki pikiran yang bercabang dan hanya fokus kepada Pancasila, bukan ke ideologi lain. Ia juga mengatakan bersatunya masyarakat Indonesia dapat menjadi kekuatan yang sangat besar.
“Renungkan itu, itu kekuatan kita!” seru Ryamirzard di tengah ribuan peserta PKKMB.

Ryamizard juga menyinggung sekelompok masyarakat Indonesia yang menurutnya berlagak seperti bangsa asing. Menurutnya dengan berperilaku seperti itu maka itu merupakan awal dari hancurnya bangsa Indonesia.

Dia juga sangat menentang sekelompok masyarakat yang ingin mengubah Pancasila. Baginya, tidak ada toleransi apapun bagi mereka yang ingin mengubah ideologi Pancasila dan tidak adanya ruang diskusi untuk itu. “Tidak ada toleransi bagi sekelompok orang yang ingin mengubah Pancasila,” tegas Ryamirzard.

Polemik Tempat Pelaksanaan PKKMB

Hari itu, gedung Bapra dipenuhi sekitar 2.000 peserta dari kapasitas gedung yang hanya mencapai 1.600 peserta. Meski terdapat kipas, kondisi dalam ruangan tetap pengap sehingga tak pelak para peserta mengibas tubuh mereka dengan buku. Tak pelak kondisi ini membuat kegiatan PKKMB tidak berlangsung kondusif.

Hana Anisa, peserta PKKMB program studi (prodi) S1 Manajemen, juga angkat suara mengenai ini. “Di sini panas, padahal ekspektasinya di tempat lapangan terbuka yang banyak udara seger itu,” tutur Hana.

Kondisi tak nyaman itu tak dialami oleh peserta di tenda. Seperti yang dikatakan oleh Allymatul, peserta PKKMB dari prodi Ilmu Politik, ia justru senang berada di tenda daripada di dalam gedung. “Aku dapat tempat di luar itu enak, sih. Lebih adem daripada di dalam kelihatan sumpek dan panas,” ucapnya.

Tak hanya itu, keadaan sarana toilet yang terbatas, membuat antrian mahasiswa tidak bisa dihindari lagi. Hal ini membuat keadaan menjadi riuh di luar gedung maupun tenda PKKMB.

Meski tempat pelaksanaan dibagi dua, peserta PKKMB mengaku dapat menerima materi yang disampaikan dengan baik. Seperti Mutiara Sabrina, peserta PKKMB prodi Ilmu Komunikasi mengaku dapat menerima materi meskipun dia berada di luar gedung.

“Materi bisa diterima, walaupun slide-nya terlalu kecil dan tidak bisa melihat pembicara secara langsung,” ucap Mutiara kepada ASPIRASI.

Mengenai perkara lokasi PKKMB ini, Erna Hernawati masih belum tahu pelaksanaan PKKMB tahun selanjutnya. Erna mengatakan bahwa hal tersebut masih perlu evaluasi kembali. Namun, ia tidak menutup kemungkinan jika PKKMB tahun depan akan kembali dilaksanakan di Bapra kembali.

“Mungkin kita akan melihat evaluasi. Bisa jadi tahun depan kita disini, kalau memang disini ternyata juga bagus karena kita dibantu marinir,” ucap Erna.

Reporter: Sarito Pasuria, Muhammad Raffi Shiddique

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *