Betawi In Paintings: Warna-Warni Citra Budaya Betawi

Betawi In Paintings: Warna-Warni Citra Budaya Betawi

Dalam rangka perayaan HUT Jakarta ke-492, Sunrise Art Gallery menggandeng Sarnadi Adam untuk menggelar pameran seni lukis yang bertemakan Betawi.

Aspirasionline.com — Ditengah ingar bingar metropolitan dan segala modernitasnya, Sarnadi Adam justru memperpanjang memori kita mengenai budaya-budaya Betawi melalui karya seninya. Dari lukisan hingga boneka ondel-ondel, karya-karyanya itu dipamerkan di Sunrise Art Gallery, Fairmont Hotel, Jakarta.

Pameran dibuka secara resmi untuk publik pada Selasa (28/5) dan terus dipamerkan hingga Senin (29/7) nanti. Pameran yang bertajuk ‘Betawi In Paintings’ ini mengusung budaya-budaya Betawi sekaligus memperlihatkan karakter kehidupan masyarakat Betawi dalam karya seni lukis.

Saat pertama kali melangkah memasuki pameran, kita akan mendapati sebuah lukisan berukuran cukup besar yang menggambarkan interaksi sosial antar wanita yang berpakaian khas betawi yang saling bercengkrama dengan latar belakang rumah betawi. Apabila kita menengok ke sisi kiri, kita dapat menemukan lukisan besar yang memperlihatkan aksi tradisional ‘Palang Pintu’ di perkampungan, yaitu merupakan tradisi Budaya Asli Betawi yang lazim muncul saat acara pernikahan.

Ada juga lukisan panen ikan yang merepresentasikan konsep pantai pesisir. Sarnadi melukiskannya dengan gambar para wanita yang membawa hasil panen ikan diatas kepala mereka.

Selain itu, lukisan yang mencitrakan penari tradisional Betawi juga dapat kita temukan di pameran ini. Contohnya lukisan tentang komposisi penari betawi dan kehidupan penari betawi. Sedangkan di sebelah kanan, terdapat meja administrasi dan didominasi oleh lukisan yang mencitrakan budaya Betawi di metropolitan Jakarta: lukisan bajaj dan penari Betawi yang dikelilingi oleh gedung-gedung tinggi.

Sarnadi menjelaskan bahwa objek utama dalam pameran kali ini adalah manusia dan alam tentang situasi dan kondisi kehidupan masyarakat Betawi yang ditinjau dari tiga aspek: pesisir pantai, daratan dan perkampungan.

Bercengkrama dengan karya seni lewat mata, pandangan kita disuguhkan dengan dominasi perpaduan warna oranye, kuning dan merah pada lukisan. Sebagian besar lukisan juga dilukis menggunakan bahan cat akrilik yang memiliki karakteristik cepat kering dan tahan air. Sebab, kata Sarnadi, aroma cat akrilik tidak terlalu menguak dan kesehatan penikmat lukisan tetap terjaga.

Sarnadi memang bukan orang baru dalam karya lukis mengenai budaya Betawi. Ia menggeluti seni melukis ini sejak tahun 1986. Saat itu Sarnadi menyadari bahwa banyak yang melukis urban namun tidak melukiskan tentang seni budaya Betawi.

“Saya sebagai anak Betawi merasa berkewajiban untuk melukiskan seni budaya, yang ternyata seni budaya Betawi itu sangat indah menarik,” ungkap Sarnadi kepada ASPIRASI, Selasa (25/6) di Sunrise Art Gallery, Fairmont Hotel, Jakarta.

Dalam penyuguhan pameran ini, Sarnadi tak sendiri. Ia juga menggandeng Ahmad Nasrullah dan Deden Hamdani. Mereka berdua merupakan mantan mahasiswa Sarnadi di Program Studi Seni Rupa, Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Ahmad dan Deden ikut serta memamerkan karya mereka dalam pameran ‘Betawi in Paintings’.

“Jadi yang dua itu mahasiswa saya sudah lulus sekitar lima belas tahun yang lalu dan dia masih berkarya seni. Sehingga karena saya juga ingin mengkader mahasiswa saya untuk menjadi pelukis betawi juga maka saya ikut sertakan gitu,” ungkap Sarnadi.

Sarnadi juga pernah menggelar pameran di ranah Asia Tenggara dan juga benua Eropa serta Amerika. Semua pameran yang dipersembahkan menggunakan tema-tema Betawi.

“Tema Betawi mempunyai keunikan tersendiri yang tidak dipunyai oleh negara-negara lain,” ujar Sarnadi dengan antusiasnya.

Reporter: Indah Jullanar. |Editor: Helen Andaresta.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *