Mengulik Sengkarut UNJ dalam Buletin Haluan Mahasiswa


Mengulik Sengkarut UNJ dalam Buletin Haluan Mahasiswa

LPM Didaktika meluncurkan buletin Haluan Mahasiswa dalam format diskusi publik demi meningkatkan minat baca dan kesadaran mahasiswa UNJ terhadap isu-isu kampus saat ini.

Aspirasionline.com — Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Didaktika —pers mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ)— mengadakan acara launching buletin Haluan Mahasiswa edisi April 2019 pada Rabu, (8/5) lalu. Peluncuran buletin diikuti dengan acara diskusi publik di Plaza UNJ. Mereka membahas tema-tema yang diangkat dalam buletin yang baru saja mereka terbitkan.

Buletin Haluan Mahasiswa fokus pada isu yang tengah terjadi di kampus pendidikan ini. Terdapat lima isu berita yang diangkat, dengan judul sebagai berikut: Problematika Kekosongan Posisi Rektor, Pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) Secara Manual yang Memberatkan Mahasiswa, Mahasiswa Bidikmisi yang Terjegal Saat Pengisian KRS, Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Hanya Ajang Formalitas, Fasilitas Penunjang Kesenian Butuh Perhatian, dan Pengajuan Dipensasi Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang Menghambat Pengisian KRS sebagai berita utama edisi kali ini.

Namun dalam diskusi ini, Didaktika hanya membahas tiga topik permasalahan secara mendalam, yaitu mengenai pengajuan dispensasi UKT yang terhambat oleh pengisian KRS, pengisian KRS secara manual yang memberatkan mahasiswa, dan mahasiswa Bidikmisi yang terjegal pengisian KRS.

Hadir pula Annisa Nurul Hidayah Sukma sebagai moderator. Tak ketinggalan, Redaktur Pelaksana Hastomo Dwi Putra dan Redaktur Cetak Ilham Abdullah juga meramaikan acara ini.

Ketika diskusi memasuki pembahasan mengenai permasalahan mahasiswa Bidikmisi yang menjadi “korban penjegalan” saat pengisian KRS, duduk permasalahan ini bermula dari mahasiswa Bidikmisi di UNJ yang mengalami hambatan ketika ingin melakukan pengisian KRS.

Sejak KRS dibuka pada 4 Maret 2019, mahasiswa Bidikmisi dialihkan ke hari terakhir pengisian KRS dan baru bisa mengisi KRS pada 14 Maret 2019. Mereka berasumsi bahwa pengalihan tersebut akibat mahasiswa Bidikmisi belum melunasi biaya kuliah semester.

Namun, hal tersebut dibantah oleh salah satu peserta  diskusi bahwa hal tersebut bukanlah pengalihan melainkan masalah pada karena mengakibatkan beberapa hal seperti akses SIAKAD dengan keceptan lambat ketika melakukan pengisian KRS.

Menanggapi pendapat ini, Wisnu Adi, mahasiswa Pendidikan Sejarah UNJ mengatakan jika problem pengisian KRS ini sudah lama terjadi. “Sudah 10 tahun terakhir kalau mau isi KRS pasti selalu bermasalah, ya, karena tidak ada maintenance untuk SIAKAD,” ujar Wisnu.

Pernyataan ini juga disebutkan dalam buletin Haluan Mahasiswa edisi April 2019 ini bahwa UNJ tidak melakukan penganggaran biaya maintenance untuk SIAKAD karena UNJ belum memiliki sumber daya manusia yang mumpuni dalam bidang tersebut.

Kampus pun membuat solusi alternatif dengan mencetuskan KRS 8080. Sayangnya, sesuai isi di buletin Haluan Mahasiswa, solusi yang satu ini masih belum mampu mengatasi permalasahan yang ada.

Ditemui oleh ASPIRASI, Hastomo Dwi Putra mengatakan tujuan dari pembuatan buletin ini adalah untuk menyadarkan mahasiswa UNJ kalau keadaan kampus sedang tidak baik-baik saja sebab masih dilingkari banyak masalah. Sedangkan, tujuan dari diskusi ini adalah berdasarkan riset yang telah dilaksanakan, minat membaca buletin Haluan dari tahun ke tahun mengalami penurunan.

“Jadi kita launching di tempat terbuka untuk memberitahu mahasiswa UNJ kalau kita punya buletin yang menginformasikan kalau kampus ini banyak banget masalahnya,” ujar mahasiswa jurusan pendidikan sejarah itu.

Hastomo juga berharap agar rektorat mau mendengarkan aspirasi dari mahasiswanya. “Jadi, harapan saya kampus mau mendengarkan aspirasi dari mahasiswa dan membaca (buletin) Haluan supaya bisa tahu apa saja problematik bagi kita,” tutup Hastomo.

Reporter: Sarito Pasuria. |Editor: Syahida Ayu

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *