Belajar Bahasa Isyarat Bersama Kopi Tuli

Belajar Bahasa Isyarat Bersama Kopi Tuli

Kopi Tuli tak hanya sekadar kedai kopi, ia juga memiliki misi sosial kepada para penyandang tuna rungu dan masyarakat

Aspirasionline.com — Bermula dari Muhammad Adhika Prakoso yang sulit mendapat pekerjaan, kemudian menemui dua orang sahabatnya untuk mendiskusikan permasalahannya itu. Dua sahabat yang Adhika temui adalah Trierwinsyah dan Putri Samphagita Trisnawinny Santoso. Trierwinsyah merupakan seorang tuna rungu. Usai kejadian keluh-kesah tersebut, singkat cerita, mereka bersepakat hendak menjalankan bisnis sebuah kedai kopi yang pada akhirnya mereka beri nama Kopi Tuli atau Koptul.

Tentu ada alasan mengapa mereka memilih kedai kopi sebagai manifestasi perintisan bisnisnya. Saat diskusi itu, Putri menyarankan Adhika untuk merintis bisnis yang sesuai dengan hobinya—membuat kopi. Mulai dari sana-lah konsep Koptul terbentuk. Mereka lantas segera mengadakan riset dan percobaan tentang cara membangun bisnis kopi dan membuat kopi yang nikmat. Akhirnya, pada 14 Mei 2018 mereka berhasil mendirikan kedai kopi Koptul di Krukut, Cinere, Depok.

“Menurut kami, nama itu sebagai identitas kedai kopi kami yang didirikan oleh teman-teman tuli,” jelas Trierwinsyah, Co-founder Koptul yang ditemui ASPIRASI pada (5/12) lalu. Selain berbisnis, Koptul juga memiliki tujuan penting lain yang mesti mereka realisasikan, yaitu untuk mengkomunikasikan bahasa isyarat. Mereka hendak menjembatani pemberdayaan teman-teman tuna rungu untuk memperkenalkan bahasa isyarat kepada masyarakat.

Dalam upaya memperkenalkan bahasa isyarat kepada masyarakat, Koptul menyertakan simbol-simbol atau gambar bahasa isyarat pada gelas plastik dari setiap kopi yang disajikan. Erwin mengungkapkan, gambar bahasa isyarat itu untuk diperkenalkan kepada pelanggan sekaligus agar dapat dipelajari.

Lebih jauh, para pelanggan juga akan diajak mempraktikkan komunikasi berbahasa isyarat secara langsung bersama para pelayan – para penyandang tuna rungu. “Pada saat pelanggan datang, (mereka, red) akan disambut dengan ‘mau pesan apa?’ menggunakan bahasa isyarat,” jelas Erwin.

Para pendiri Koptul sengaja tidak menyediakan fasilitas wifi di kedainya. Alasannya, kata Erwin, Koptul sangat menganjurkan pelanggannya untuk saling berinteraksi langsung. Sehingga seluruh pelanggan baik yang tuli maupun tidak, bisa saling berinteraksi dan berkomunikasi.

Dalam menunya, Koptul juga menggunakan nama-nama yang tak familiar. Contohnya, menu green tea yang dimodifikasi menjadi “daun susu”. Hal itu dimaksudkan agar para pelanggan heran dan bertanya kepada pelayan. Dengan begitu, komunikasi diantara mereka akan terjadi dan interaksi pun muncul.

Erwin berharap bisnis Koptul dapat berkembang dan menambah cabang di daerah lain. Supaya penyerapan tenaga kerja kawan-kawan tuna rungu bisa menjadi lebih banyak. “Karena kopi itu sebenarnya media komunikasi. Makanya cara kami memperkenalkan bahasa isyarat menggunakan industri kopi,” tutur pria lulusan seni rupa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu.

Pengunjung Koptul tak dibatasi umur tertentu. Disana kerap dijumpai dari anak muda hingga orang tua. Alasan mereka pun beragam, diantaranya karena penasaran, pun ada yang memang ingin mempelajari bahasa isyarat.

Salah satunya Teguh Ardiasnyah. Ia mengaku tertarik pada kedai kopi Koptul setelah mengetahui bahwa pegawainya menyandang tuna rungu. “Saya pertamanya kesini karena penasaran, terus kepo juga sama suasananya,” jelas Teguh saat ditemui ASPIRASI di Koptul cabang Duren Tiga. Terlebih, ia juga ingin mengetahui bahasa isyarat dan mempraktikannya secara langsung.

Namun, pria yang mendaku sebagai pecinta kopi itu tetap kebingungan saat para pegawai Koptul betul-betul berkomunikasi dengan bahasa isyarat. “Awalnya saya bingung bagaimana cara saya pesannya, tapi yang saya lakukan hanya memperjelas intonasi, mimik wajah, dan memperkeras suara. Mereka langsung mengerti, jadi ya masih gampang dan tidak ada masalah,” tutup Teguh seraya menyeruput kopi hitamnya.

Reporter: Tian Mg. |Editor: Fakhri Taka

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *