Menyoal Tiadanya Pelaksanaan Minggu Tenang


Menyoal Tiadanya Pelaksanaan Minggu Tenang

Tidak adanya minggu tenang pada semester ganjil kali ini menimbulkan tanda tanya dari seluruh sivitas akademik UPNVJ.

Aspirasionline.com — Sabtu (8/12), merupakan hari terakhir kegiatan perkuliahan di semester ganjil periode 2018/2019. Selepas mengikuti kegiatan perkuliahan selama 16 minggu, nantinya mahasiswa akan mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) sebagai evaluasi kegiatan belajar yang telah dilaksanakan.

Namun demikian, sebelum melaksanakan UAS biasanya mahasiswa mendapatkan minggu tenang yang terdapat pada jeda antara minggu terakhir perkuliahan dengan pelaksanaan UAS. Minggu tenang ini biasanya dimanfaatkan oleh para mahasiswa maupun dosen untuk melaksanakan kegiatan kuliah pengganti ataupun mempersiapkan diri menuju UAS. Berbeda dengan semester yang lalu, pada semester ini tidak terdapat minggu tenang dalam pelaksanaannya.

Tepat di hari Senin (10/12), kegiatan UAS resmi dilaksanakan dan diikuti oleh para mahasiswa. Beragam tanggapan pun hadir terkait tiadanya pelaksanaan minggu tenang kali ini. Puspitaning Wanudya, mahasiswi Ilmu Komunikasi 2018 mengaku sedikit dirugikan terkait tiadanya minggu tenang sebelum UAS.

Dirinya mengaku dengan tidak adanya minggu tenang terdapat pertemuan pengganti yang justru tidak efektif sehingga merugikan mahasiswa. Senada dengan hal tersebut, Nafia Marvelin merasa dengan tidak adanya minggu tenang membuatnya tidak mempunyai waktu lebih untuk mempersiapkan UAS. “Belum lagi kelas pengganti untuk tiga pertemuan dilakukan dalam satu hari menjadi tidak efektif,” ungkapnya kepada ASPIRASI pada (5/12).

Jerry Indrawan, selaku dosen Ilmu Politik UPNVJ mengeluhkan hal yang serupa, dirinya mengaku setuju mengenai perlunya minggu tenang sebelum ujian. Dirinya menilai hal tersebut dapat bermanfaat baik bagi mahasiswa untuk mengejar ketertinggalan ataupun persiapan UAS. “Saya pribadi juga ada beberapa kelas yang tertinggal sehingga harus dikejar sampai jumat (red, 7/12), dan itu membuat persiapannya jadi tidak efektif atau terkesan terburu-buru,” terangnya.

Kendati demikian, Jerry mengakui bahwa terkait ada atau tidaknya pelaksanaan minggu tenang merupakan kebijakan yang diterapkan oleh kampus. Sehingga menurut Jerry mau tidak mau sebagai sivitas akademik harus menyesuaikan dengan kebijakan tersebut. “Mungkin salah satu pertimbangannya karena mepet dengan libur natal, karena seingat saya tahun lalu ada minggu tenang,” pungkasnya.

Menanggapi permasalahan yang ada, Mihrodi  selaku Kepala Sub bagian Akademik dan Kemahasiswaan UPNVJ mengungkapkan terkait tiadanya pelaksanaan minggu tenang kali ini sudah sesuai dengan perencanaan yang ada. “Ya karena kami sudah membagi waktu menjadi 16 kali pertemuan dan pas, jadi tidak ada minggu tenang” jelasnya.

Dirinya juga menjelasakan tidak adanya minggu tenang bukan karena takut pelaksanaan UAS nantinya akan terbentur dengan libur natal dan tahun baru. Ia menegaskan kegiatan belajar mengajar mengacu pada kalender akademik yang ada, dan sivitas akademik harus dapat menerima dan menyesuaikan keputusan tersebut.

“Mahasiswa harus siap menghadapi Ujian Akhir Semester, sekalipun tanpa minggu tenang” tutup nya kepada ASPIRASI.

Reporter: Myranda Mg. |Editor: Helen Andaresta

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *