Hadirnya Sistem Monitoring di PKKMB 2018

Hadirnya Sistem Monitoring di PKKMB 2018

Pada tahun ini, PKKMB menyajikan sistem baru dengan menerjunkan 69 mentor. Sistem ini bertujuan untuk menggali pikiran kritis mahasiswa baru.

Pada PKKMB tahun ini, Badan Ekseku­tif Mahasiswa Universitas (BEM-U) menginisiasikan program baru, yaitu sistem mentoring. Mentoring sendi­ri merupakan diskusi antar mahasiwa baru yang akan dipandu oleh para mentor yang dipanggil abang dan mpok. Pelaksanaannya berlangsung selama tiga hari, yaitu pada 12, 13, dan 16 Agustus. Selain itu, para mentor juga tetap memandu mahasiswa baru saat up­acara kemerdekaan RI pada 17 Agustus.

Salah satu perwakilan mahasiswa Rey­naldi Ramadani menjelaskan bahwa sistem mentoring sendiri bermula dari kekhawatiran akan kurang terkoordinirnya acara. “Tahun kemarin banyak mahasiswa baru yang kabur ke warteg. Mungkin karena kurangnya orang yang bertanggung jawab untuk mengawasi,” ujarnya pada ASPIRASI (27/7) lalu.

Sistem mentoring bertujuan agar hubungan antara mahasiswa baru dengan panitia PKKMB dapat terjalin dengan baik. “Jadi bisa lebih sering berkomunikasi dengan mahasiswa baru. Contohnya dengan membuat grup chat antara mentor dengan mahasiswa baru,” ujar mahasiswa jurusan S1 Hubungan Internasional ini.

Ketua PKKMB Astatantica Belly Stanio juga berpendapat bahwa sistem mentoring dapat menguji mahasiswa baru untuk meng­utarakan pendapat kritisnya dalam mengha­dapi persoalan pada kehidupan perkuliahan juga sehari-hari.

“Alhamdulillah sistem mentoring ini diterima oleh pihak rektorat. Jadi kita me­minta supaya pembicara tidak satu arah da­lam menyampaikan materi, sehingga tidak ada mahasiswa baru yang hanya duduk diam mendengarkan pembicara,” katanya pada AS­PIRASI (26/7) lalu.

Mentoring dimulai ketika pembicara PKKMB tingkat universitas selesai menyam­paikan materinya kepada mahasiswa baru. Berlangsungnya diskusi memakan waktu seki­tar 10-15 menit, diawali dengan para mentor yang memaparkan materi PKKMB sekitar lima menit.

“Misalkan pembicara menjelaskan materi Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 secara umum. Sedangkan pada saat di­skusi, mentor akan menjelaskan implementa­si materi pada kehidupan sehari-hari, seperti kepemimpinan berdasarkan Pancasila dalam ruang lingkup mahasiswa,” jelas koordinator mentor Nahdyatul Nur Awalia.

Selanjutnya mahasiswa baru diberi ke­sempatan untuk mengutarakan pendapatnya melalui diskusi dan tanya jawab. Jika ada ma­hasiswa yang pasif pada saat diskusi, mentor akan memancing mahasiswa tersebut agar aktif dalam menyampaikan pendapat maupun tanya jawab.

Wanita yang kerap disapa Mumun ini mengatakan bahwa peran mentor menjadi sangat krusial karena harus memandu jalan­nya diskusi antar mahasiswa baru.

Salah satu mahasiswa baru Dimas Fahriza mengatakan bahwa mentoring cuk­up membantu jika ada materi yang kurang di­mengerti.

Selesai diskusi, setiap kelompok diwa­jibkan untuk membuat satu notulensi untuk setiap materi. Notulensi ini akan dikumpulkan oleh mentor dan diserahkan ke penanggung jawab ruangan. Selanjutnya akan diumumkan sembilan juara yang berasal dari setiap ge­dung pada Kamis (16/8).

Namun, sistem ini dinilai kurang efektif oleh seorang mahasiswa baru bernama Agung Prasetyo. Menurutnya, sistem ini membutuhkan waktu lebih banyak agar aspirasi dapat tersampaikan dalam kelompok.

Hal senada diungkapkan oleh Adilah Nuur Huda dari D3 Sistem Informasi. Ia men­gatakan bahwa seharusnya perlu ada penam­bahan jumlah mentor dalam satu kelompok menjadi dua atau tiga mentor. Hal ini dikare­nakan banyaknya mahasiswa baru di dalam kelompok sehingga kurang terdengarnya in­struksi suara.

Persiapan Mentor

Mumun mengungkapkan bahwa pani­tia mentor sudah dibekali persiapan khusus sejak akhir Juli. Persiapan tersebut berupa briefing dan rapat.

“Untuk mentor ini persiapan khusus­nya seperti materi dan harus kuat mental karena menghadapi 40 mahasiswa baru yang berbeda-beda sifat dan karekternya,” ujarnya kepada ASPIRASI (31/7) lalu.

Selain itu, Mumun terus menekankan kepada para mentor untuk mempelajari ma­teri dan memastikan mentor untuk datang pada saat PKKMB berlangsung.

Namun, karena ini merupakan pelak­sanaan pertama sistem baru maka terdapat beberapa kendala dalam persiapan. Rian Ra­madhan selaku koordinator acara PKKMB mengaku masih meraba-raba pengimplemen­tasian sistem. Selain itu keterbatasan ruan­gan dalam menampung mahasiswa baru yang berjumlah 3.080 orang juga menjadi kendala lain.

Mumun pun berharap sistem mentor­ing ini akan berjalan dengan efektif dan dapat terjalin hubungan baik antara mahasiswa baru dan panitia. “Harapannya supaya para mentor dapat supel dan ramah dalam mer­angkul mahasiswa baru sehingga acara PK­KMB tidak monoton,” ujarnya.

Reynaldi juga berharap sistem baru dapat dijadikan batu loncatan supaya acara PKKMB tahun ini dapat berjalan dengan lan­car. ”Banyak yang berpikir bahwa kegiatan os­pek menakutkan padahal tidak ada apa-apa. Harapannya agar sistem yang ada di PKKMB 2018 ini dapat diimplementasikan pada ta­hun mendatang dan yang kurang baik dapat dihapuskan dan diperbaiki lagi,” tutupnya.

Reporter : Nabila Tiara

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *