banner

Membuka Wawasan Siber Melalui Seminar

Written by

Rangkaian acara Joint Statement Forum 2017 hadir di Universitas Pembangunan Veteran Jakarta dalam balutan Seminar Nasional.

Aspirasionline.com – Himpunan mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) Universitas Pembangunan Veteran Jakarta (UPNVJ) bekerjasama dengan Forum Komunikasi Mahasiswa Hubungan Internasional se- Indonesia (FKMHII) mengadakan seminar nasional sebagai salah satu rangkaian acara Joint Statement Forum 2017 pada Senin (23/8). Seminar yang bertajuk “Peningkatan Pertahanan Nasional Indonesia dalam Sektor Siber“ berlangsung di Ruang Auditorium Gedung Rektorat UPNVJ lantai empat.

Saat ruangan sudah dipenuhi peserta, pembawa acara pun membuka acara pada pukul 08.48 WIB. Nyanyian Lagu Indonesia Raya dan Mars Bela Negara yang dipimpin oleh paduan suara Gita Advayatva dan diikuti ole peserta menjadi rangkaian awal dari acara tersebut. Selanjutnya ialah sambutan dari Rian Ramadhan selaku Ketua Pelaksana, Reynaldi Ramadhan selaku ketua HIMAGI, Abu Rijal El Jihadi selaku Presiden Nasional (Presnas) Koordinator Wilayah II FKMHII, Kusumajanti selaku Wakil Dekan III (Wadek III) bidang Kemahasiswaan Fakultasi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UPNVJ, dan Asep Kamaludin selaku Kepala Program Studi (Kaprodi) Hubungan Internasional (HI) UPNVJ . Dalam sambutannya, Reynaldi berharap bahwa acara ini dapat memberikan manfaat bagi seluruh peserta yang hadir. Selain itu, Asep Kamaludin turut memberikan pesan kepada peserta. “Semoga acara seminar ini menjadi pintu masuk hubungan antara mahasiswa terkait dengan pihak tekait,” ungkapnya sembari tersenyum.

Penampilan paduan suara Gita Advayatva menjadi penghibur bagi para peserta sebelum memulai inti dari rangkaian acara. Mereka mempersembahkan lagu Satu Nusa Satu Bangsa dan Keroncong Kemayoran.

Acara selanjutnya ialah pemanggilan setiap delegasi dari 14 perwakilan Universitas yang menjadi peserta di acara tersebut. Perwakilan universitas tersebut diantaranya ialah Universitas Bina Nusantara , President University, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Internasional University Liaison Indonesia, Universitas Al Azhar Indonesia, Universita Budi Luhur, universitas Jaya Baya, Universitas Nasionl, Universitas Paramadina, Universitas Pasundan, Universitas Pelita Harapan, UPNVJ, Universitas Moestopo Beragama, dan Universitas Satya Negara Indonesia.

Rangkaian selanjutnya ialah pembukaan seminar nasional oleh Rizki Hikmawan selaku moderator. Materi pertama seminar nasional ini disampaikan oleh Rektor Sekolah Tinggi Inteligent Negara (STIN), Rodon Pedrason. Dalan paparannya, Rodon mengatakan bahwa perkembangan dunia teknologi digital dan inromasi sangat berpengaruh dalam pola ancaman yang berkembang dan potensi dunia siber yang dimiliki Indonesia bukan merupakan hal yang dianggap main – main . “Tantangan dalam menyelesaikan kasus siber diperlukan lembaga Negara yang terintegrasi. Selain itu Kementrian Pertahanan dan KOMINFO juga turut terlibat dalam hal ini,” seru lelaki berseragam dinas TNI AD tersebut.

Setelah pemaparan materi dari Rodon, acara selanjutnya ialah panel diskusi yang akan dibawakan oleh Pratama Prasadha selaku Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber Communication and Information System Security Research Center (CISSRec) dan Pakar keamanan serta Yugoslatarob selaku dosen HI UPNVJ. Acara ini dibagi menjadi dua sesi dimana setiap pembicara mendapatkan waktu tiga puluh menit dalam memberikan materinya.

Dalam materinya, Prana mengungkapkan bahwa Negara Indonesia sudah menjadi target bagi bangsa asing karena saat ini sudah 132 juta orang Indonesia dapat terkoneksi ke internet. “Kita ini sekarang dijajah oleh orang asing tapi kita merasa bahagia karena media social yang gratis. Fungsinya ialah supaya kita dapat memberikan informasi yang kita miliki kepada mereka yang memberikan aplikasi sosial media gratis agar mereka dapat menyelidiki kegiatan di negara kita,” jelasnya.

Selain itu, Yugo juga menegaskan dalam materinya bahwa Negara kita masih jauh tertinggal dalam membentuk lembaga pertahanan yang dapat mengatasi adanya serangan siber. Ia mendefinisikan Negara Indonesia seperti seseorang yang ditendang namun tidak merasakan sakit. “Ibaratnya orang ditendang trus kalo bukan orang lain yang ngasih tau kalo kita ditendang, kita gaakan merasakan sakit,” ungkapnya diiringi tawa para peserta.

Sebelum acara tersebut ditutup, moderator memberikan kesempatan bagi para peserta untuk bertanya. Sesi pertanyaan tersebut dibagi menjadi dua sesi dimana setiap sesi berisi 5 penanya dari masing – masing peserta.

Pada pukul 12.25, acara tersebut ditutup dengan penyerahan plakat kepada para pembicara dan sesi foto bersama. Rifat Cahyani selaku peserta mengungkapkan bahwa acara tersebut sangat memberikan manfaat bagi dirinya. “Manfaatnya banyak banget apalagi bagi kaum muda kayak aku yang gemar bersosial media. Jadi lebih berhati – hati aja,” ujar mahasiswi jurusan Manajemen tersebut pada Senin (23/8).

Reporter : Syafira Ferdiani

Article Categories:
Berita UPN

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *